Pengembangan Pendidikan Berbasis Ekosistem Ekonomi Lokal (Bang Dika Baso Milo) untuk Meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Menurunkan Angka Pengangguran di Kabupaten Bojonegoro Pada Tahun 2026-2030
Bumi Angkling Darmo yang pernah menjadi Wilayah kekuasan Jipang pada zamannya ini, terus menjadi indikator perkembangan peradaban Nusantara. Bahkan sampai sekarang Bojonegoro menjadi barometer, baik di kancah Nasional maupun Internasional dengan produksi Minyak dan Gas yang berkontribusi lebih dari Seperempat produksi Migas Nasional. Bahagia, Makmur dan membanggakan adalah slogan yang ingin kita wujudkan untuk menjadi kenyataan di Bojonegoro. Pembangunan manusia merupakan indikator utama keberhasilan pembangunan daerah. Salah satu ukuran yang digunakan adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencakup dimensi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia diharapkan bisa berdampak positif terhadap kesejahteraan Masyarakat melalui Penyerapan tenaga kerja dibidangnya, Namun demikian Tingkat pengangguran terbuka masih menjadi masakah dalam kenyataan kehidupan. Hal ini menjadi salah satu tantangan untuk diselesaikan dalammewujudkan Bojonegoro Bahagia, Makmur dan Membanggakan.
Data dari BPS Kabupaten Bojonegoro menunjukkan bahwa IPM Bojonegoro terus meningkat dari 70,18 (2020) menjadi 71,80 (2023) dan mencapai 72,75 pada tahun 2024 . Meskipun demikian, peningkatan IPM belum sepenuhnya diikuti dengan penurunan pengangguran secara signifikan. perkembangan Tingkat pengangguran terbuka selama 3 tahun terakhir menurun konsisten, tahun 2023: 4,63% , 2024: 4,42% dan 2025: 3,90%. Jika angkatan kerja: 843.465 orang , Penduduk bekerja: 810.528 orang, maka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) : 3,90% Artinya : dari setiap 100 orang angkatan kerja di Bojonegoro, sekitar 3–4 orang masih menganggur, dengan Jumlah pengangguran: ±32.937 orang, Pengangguran didominasi lulusan SMK dengan TPT lulusan SMK bisa mencapai sekitar 10,99% ( BPS Bojonegoro, 2025) . Persoalan ini jika dibiarkan bisa menghambat perwujudan Masyarakat paian Bojonegoro yang Bahagia, Makmur dan Membanggakan.
Era digital dan otomasi yang dimulai kisaran tahun 2000, ditandai dengan munculnya AI, BigData dan otomatisasi termasuk dalam bidang perekonomia, dengan munculnya berbagai platform sehingga banyak pekerjaan lama yang hilang dan banyak pekerjaan baru yang muncul lebih cepat dari kemampuan sistem pendidikan beradaptasi sehingga Lulusan tidak punya keterampilan yang dibutuhkan, lulusan menjadi over qualified atau under qualified akibat dari bidang studi yang tidak sesuai pekerjaan termasuk kurangnya soft skills: komunikasi, adaptasi, dan problem solving. Dari kronologi tadi, penyebab utamanya adalah Kurikulum belum menyesuaikan perubahan pasar kerja, Sistem pendidikan terlalu akademik , Kurangnya kolaborasi dunia Pendidikan dengan dunia industri , Informasi pasar kerja tidak transparan dan Orientasi Pendidikan lebih pada ijazah, bukan kompetensi. Semua itu mengakibatkan Pengangguran terdidik meningkat, Produktivitas rendah, IPM meningkat tetapi dampaknya tidak optimal.
Solusi dari semua permasalahan diatas bisa dilakukan dengan Pengembangan Pendidikan Berbasis Ekosistem Ekonomi Lokal (Bangdika Baso Milo), dengan pilar utama Link and Match dunia Pendidikan dengan dunia Industri, Pendidikan Vokasi Berbasis Daerah, Entrepreneurship Education, Digital & Future Skills, Reposisi Perguruan Tinggi. Kemudian ditunjang dengan Program Strategis : Revitalisasi SMK berfokus pada Agro Industri, Energi dan UMKM Digital. Kemudian Program 1 Desa 1 Skill unggulan sesuai dengan potensi lokal. Berikutnya Kurikulum berbasis Industri dengan kewajiban magang selama 6 bulan melalui Kerjasama dengan Perusahaan lokal. Lebih lanjut Pemkab perlu mengalokasikan APBD untuk modal inkubasi wirasuaha muda dengan pendampingan pada UMKM Digital. Selanjutnya Pembentukan Lembaga Pelatihan Ketrampilan Digital Daerah yang membekali pengetahuan dan ketrampilan AI, Koding dan Digital Marketing. Terakhir dengan Reposisi Perguruan Tinggi melalui : Fokus Pembelajaran pada pencapaian kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Pembelajaran berbasis pengalaman nyata, seperti proyek industri, magang, studi kasus, dan simulasi dunia kerja. Membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang dunia kerja, perencanaan karier, serta strategi transisi dari kampus ke dunia professional. Pendampingan personal dan kelompok untuk membantu mahasiswa mengembangkan potensi, mengatasi hambatan, dan mengambil keputusan karier secara mandiri. Membangun dan mengelola kolaborasi dengan dunia industri dan dunia usaha.
Oleh : Sudalhar
Ketua Stikes Maboro